Aku Jadi Walikota


Pernah aku berhayal, waktu itu lagi musim kampanye dan pemilu calon walikota di daerahku, seperti biasa, banyak serangan politis, serangan stiker meminta dukungan, sebagai manusia yang berotak cemerlang aku juga punya andai-andai seandainya jadi walikota, setelah aku pelajari dan banyak buku tentang filsafat pemerintahan, ternyata untuk mengatur dan menjadi figur yang ideal seperti yang diharapkan masyarakat tidaklah mudah, harus ini itu, campur mentega biar licin jalannya, kasih gula biar manis bicaranya, dan lain sebagainya. 

Tapi aku punya pendapat sendiri, ternyata, peradaban ini memang maju secara visual, tapi peradaban otak semakin ketinggalan, para pemimpin selalu menebarkan janji-janji, memperbaiki jalan salah satunya, pertanyaannya, kalo emang ini yang diminta masyarakat, berarti masyarakat yang bego, masak cuman minta itu doank, seharusnya minta fasilitas yang bisa memberikan sesuatu untuk dia, anak dan cucunya kelak.

Kalo jalanan bagus, tentu yang senang cuman pengendara motor dan roda empat, trus yang jalan kaki?? Naik angkot, duit, duit,duit, polusi,polusi,polusi, global warming, ato pemanasan global tau gak?? Itu tuh yang harusnya bisa dibikin acuan, waduh kok jadi serius gini !..

Aku ketemu dengan helmi, sahabatku, yang kadang terobsesi dan peduli dengan politik dan pemerintahan, bayangin aja, semua nama calon walikota dia hafal, bahkan sudah bisa memprediksi siapa calon yang bakal keluar dan duduk di kursi panas walikota.

“Zal..yang ini presentasinya sekian persen” katanya, wah aku hanya manggut-manggut aja.

“Kalo yang ini sekian persen pasti banyak yang dukung karena dari partai ini, bla,bla, bla…”

Hmm aku tambah manggut seolah perduli, entah kenapa, aku gak perduli dengan politik dan pemerintahan, mungkin karena traumatis waktu jadi aktivis kampus, mungkin juga.

Tapi sobatku helmi gak pernah jera, padahal dia juga aktivis waktu kuliah, walaupun pada saat ini dia masih berstatus sebagai mahasiswa, aku anggap aja dia sudah lulus, hehehe…..(ndank lulus ben.)

Karena waktu itu kami lagi jalan-jalan muterin kota tarakan, dan selama itu pula dia selalu komentarin banner-banner dan poster yang bertuliskan :

Pilih kami ketik reg spasi calon walikota.

Wah…wah… aku jadi tambah sumpek, akhirnya kendaraan roda dua yang kubawa kuhentikan, biasa… istirahat dulu. Sambil liat pemandangan, siapa tau ada cewek lewat trus godain kami, kamikan cowok ganteng, walah,..

“gimana zal, kau pilih siapa kah?” kata helmi mulai lagi

“wah gak tau nie.. golput aja deh..” kataku.

(Sekarang, rokok, golput dan yoga diharamkan MUI)

“kau gak mencalonkan diri jadi walikota kah ?” tanya helmi iseng

“ hmm boleh juga…” jawabku datar tapi pikirku langsung kemana-mana

Trus aku bilang, “seandainya aku jadi walikota, aku mau pakai sistem ortodoksisme..” kataku sambil menatap langit biru dan membetulkan baju berkerahku, mengepalkan tanganku, dengan semangat 45 yang tentu saja langit menjawab dengan suara petir menggelegar, dahsyat, helmi langsung serius, mengerenyitkan dahi.

“ wah, trus, maksudnya apa tuh?” katanya bingung,

“demokrasi, liberaliis, spilis, gimana zal?” katanya tambah bingung.

“heh, semua itu bullshit, tai kebo, dengan sistem ortodoxisme ini, kita akan kembali kemasa lalu, jaman kuno hell..” kataku penuh antusias berapi-api, berair-air. Disambut foto dari langit, kilat menyambar.

Lalu aku mulai kampanye “ kalo aku jadi walikota, aku mau semua kendaraan di ganti sama kuda, gajah sama onta, sebagai alat transportasi..! ”

“ Wah hebat jg tu….terus-terus..” kata Helmi sok serius. Padahal dalam batinnya “kasian temenku satu ni, gila ”.

Yah, memang begitulah helmi, selalu tabah menghadapi sobatnya yang gila ini. Dia selalu memasang tampang serius, ini ciri sahabat yang baik. Kasian helmi, harus tabah menghadapiku.

Lalu kulanjutkan kampanyeku, “ bayangin hel, akibat kendaraan dan polusi selama berabad-abad, bikin sesak, akhirnya tanpa kita sadari, umur manusia yang seharusnya di jatah 100 tahun hidup, malah udah mati ketika umur 50, dan hebatnya kita bisa memberi contoh positip untuk menghambat pertumbuhan global warming …” helmi langsung serius ngedengerin bacotanku.

“trus trus…” katanya sambil menebarkan bunga ke atasku, sambil tahlilan. Kayaknya dia mulai sadar kalo aku kesurupan.

“lampu dan listrik kita gak usah pake semua itu, kita ganti dan kembali pake obor aja..” tanduk di kepalaku mulai muncul, nafasku seperti hembusan api naga gunung merapi.

“ ho-oh..” Helmi mengiyakan dengan pasrah.

Sedangkan aku ngebayangin, kalo lagi ngajar kuliah pake obor. Oh ia, sekarang ini aku bekerja sebagai dosen di PPKIA tarakan, saat ini lagi musim-musimnya mati lampu dan pemadaman bergilir, pernah suatu ketika pas ngajar malem, tiba-tiba mati lampu, jadi aku manfaatin pasilitas senter yang ada dihapeku, untuk meneruskan perkuliahan.

Di lain waktu pas mati lampu juga nih, mahasiswa pada tereak-treak minta perkuliahan di sudahi, sebenarnya aku juga mau menyudahi perkuliahan tapi karena mereka berisik banget, akhirnya kelas ku tinggalkan diam-diam tanpa sepengetahuan mahasiswa di kelasku.

“ Pak tugasnya tadi bagaimana ?” tanya mahasiswa karena sebelumnya kuberi tugas.

Suara mereka masih ku dengar padahal aku sudah gak ada di tempat. Karena aku gak jawab-jawab, mereka akhirnya tersadar.

“ Bapak ni masih ada gak sih…?” lalu mereka nyenterin pake hape, alhasil …ANCRITTT…
Gue sudah lenyap dari hadapan mereka. Dari situlah ide ortodoxisme ini muncul.

Kembali ke cerita semula bro.

“ trus gak bisa nonton tipi , hape-hapean, telpon-telponan sama internetan lagi donk..” tanya Helmi lagi.

“ iya Em-ber, tapi liat sisi baiknya donk, kita bisa memulihkan bumi yang selama ini kita ambil energinya, lagian semua yang berbau teknologi lebih banyak mudorotnya juga..” jawabku.

“aspal kita bongkar, supaya tanah bisa bernafas lega, rumput liar kita jinakkan lagi,..” tambahku

Seketika itu angin berhembus, sepertinya bumi beserta isinya sedang memberi semangat dan restunya padaku. Awan putih memayungiku.

“ kamu tau gak hel, kenapa orang dulu sakti – sakti ?

“ gak, emang kenapa?”

“ karena gak ada hape..”

“ loh kok bisa, apa hubungannya..?”

“ iya donk, bayangin aja, orang dulu kalo mau nelpon mesti meditasi dan bertapa dulu, 7 hari 7 malam, baru bisa nyambung, nah sekarang, orang bisa dengan mudahnya bicara dengan orang di seberang samudra hanya dengan mencet mencet tombol hape, gak sampe 3 menit udah nyambung..!!” kataku sambil kacak pinggang, layaknya superstar habis dilempari botol sama penonton.

“ berarti orang jaman sekarang lebih sakti donk…..”

TOENK…Gedubrak.

“ bwakakakaka….” Kami langsung ngakak.

Dibawah ini adalah tulisan ku waktu merancang sistem ortodoxisme yang pernah kutulis di blog ku.

The will to power.
Kehendak untuk berkuasa, kebanyakan di ekspresikan dengan tindakan refresif yang justru menjadi jebakan sendiri. Hegemonik yang dilakukan demi mempertahankan ideologi politik yang di dominasi oleh peradaban Eropa.

Penaklukan Kultural
Setelah beberapa dekade kemenangan peradaban dunia Barat atas Timur semakin terlihat terutama di Indonesia, terutama hasil – hasil pemikirannya. Generasi penerus telah terkena blok history sehingga tidak mampu berkaca demi melihat bangsa ini di tindas oleh kolonialisme dan imperialisme untuk menjalankan misi westernisasi atau modernisasi peradaban yang mereka bilang MegaProyek alias menjajah negeri yang kaya seperti Indonesia.

Demokrasi bukan sebuah hasil pemikiran Oksidentalis melainkan Orientalisme yang sangat bertentangan dengan adat ketimuran. Kearogansian Barat yang mengagungkan faham demokrasi sehingga menganggap dirinya sebagai peradaban yang superior.
Mengapa kita harus ikut mengembangkan faham demokrasi ini??
Apakah benar istilah bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan??
Apakah keinginan rakyat sama dengan keinginan Tuhan??
Sejauh manakah faham demokrasi menjamin kesejahteraan rakyat dan bangsa??

Ortodoxisme ; menjalankan sebuah pemerintahan yang jauh dari modernitas. Mendekonstruksi stigmatisasi peradaban Barat atas Timur, fasilitas transportasi, ekonomi, teknologi, politik, dan rekonstruksi kultural Oksidentalis.
Hancurnya fasilitas baru akan memaksa kita untuk menggunakan fasilitas kuno yang tentu lebih bersahabat dengan alam dan menciptakan kedisiplidan dan asas kemandirian individu, karena fasilitas dan teknologi canggih telah memanjakan kita.
Kembali ke jaman kuno dengan menggunakan hukum Tuhan semata sebagai patokan aturan. Namun
sebuah gagasan atau ide mendirikan sebuah faham yang benar-benar kontroversial, nakal sekaligus melawan segala bentuk modernitas logosentrisme orientalis, peradaban Eropa yang kian menjamur hampir delapan puluh persen di dunia dengan peradaban Timur yang tenggelam .
Mengapa peradaban Timur bisa tereliminasi di kancah peadaban dunia ini?

Naahhh… Kalian pasti mengerti, kenapa gak ada yang komentar tentang tulisanku ini di blog (www. rizanggie.wordpress.com) Uhh… menyedihkan. Makanya males nulis yang ‘berat- berat’.