Diklat Himasos


Waktu diklat lapangan, kami seangkatan ada 8 orang, mulai dari yang tua Silvi, Puji, Hendrik, Icuk (Alm), aku, Sai’in, Lely, Triono. Lokasi diklat kami di Jolotundo, daerah Trawas-Mojokerto, kami baru kenal, kecuali aku dan puji, karena kami tetangga kost-kostan berjarak 2 meter. Icuk sama Hendrik juga udah saling kenal karena sekelas, dan hanya mereka berdua yang asli Surabaya. Kami tiba dilokasi itu kira-kira jam 4 sore, di perhentian gerbang perkemahan, lalu menunggu, pada waktu itu kami gak tau apa yang ditunggu, tapi setelah tau, ternyata panitianya lagi siap-siap sekalian nunggu gelap, supaya acara diklat semi-militer ini berjalan mengerikan. Huu,,,,,takut nie,,,
Jadi pas nunggu itu, kita diwarung makan-makan, setelah gelap mulailah acara diklatnya. Banyak perlengkapan yang dibawa, ada senter, ponco ato jas hujan, tali pramuka, dan perlengkapan lainnya seperti pakaian dll. Tapi karena aku punya tas carier yang lumayan besar kapasitas 20 kg, pakaian dan perlengkapanku ama puji jadi satu. Supaya gak repot katanya sebelum aku tau akhirnya aku bakalan nyesel dibuatnya. Gak lama kemudian datang senior Said, yang belakangan jadi salah satu sahabatku.

“ Baris…baris..!” katanya memberikan komando. Lalu membagikan topi rimba sebagai salah satu aksesoris tambahan ala tim SaR.

Kamipun baris menurut urutannya, dimulai dari yang tua ke yang muda.

“ Berhitung….!” Kata komandan Said
“satu…”
“dua…”
“tiga…”
“empat…”
“lima..”
“enam…”
“tujuh..”
“delapan, lengkap!!” teriak triono dengan nada cempreng ndesitnya.

Setelah berhitung, maka kamipun berangkat menuju base camp. Setelah sampai di basecamp kamipun langsung membuat tenda ala kadarnya dari ponco. Wah mirip tunawisma deh pokoknya. Pada waktu itu entah jam berapa, karena kami melewati perjalanan jauh, naik turun lembah, gelap, udah hujan, udah becheck gak da ojheck, capheck deck. Bahkan komandan Said sampai tergelincir, terguling-guling, kayak babi guling. Ingin rasanya aku bilang ‘awas mas, nanti jatuh.’ Tapi takut, soalnya aku tau, pada saat kayak gini gak mungkin main-main. Jadi terpaksa ikutin skenario aja.

Pada waktu di tenda, ternyata para panitia menyebut lokasi kami sebagai ‘camp bayangan’ hmm lumayan keren juga khan? Trus karena banyak nyamuk dihutan, si Lely mulai mengeluarkan lotion anti nyamuknya, dasar wanita pikirku bisa dimaklumi, tapi ternyata si Puji make juga, eh saiin juga, wah-wah. Malam itu aku gak bisa tidur, si Icuk udah sakit-sakitan terserang salesma, tenggorokannya sakit, Lely pun batuk-batuk, Sai’in, Puji, Triono, Hendrik, semua pada ngorok. Aku gak bisa tidur, dalam pikiranku selalu menuju panitia, karena mereka berbisik-bisik, jadi aku mikir yang aneh-aneh. Ternyata bener. Setelah lewat tengah malam, kamipun dibangunkan layaknya satpol PP ngobrak banci mangkal.

“Bangun….BANGUN…WOOOOiiii…. BANGUUUUUUNNN….!” Teriakan berapa orang panitia secara brutal menghancurkan seantero jagad, seraya mengobrak – abrik tenda kami dengan paksa.

“Bariiiissss…!”

Aku yang sedari tadi gak tidur dan dengan sigap langsung muncul di barisan pertama. Itu pun pake ngerayap kayak cicak.

“Ngerayap….HAYOOOO semua NgeraYAAAAAPPP..” suara senior menggelegar kayak kapal karam.

Uhh… ngeselin aja tuh suara sumbang. Cocok jadi vokalis black metal yang suaranya kayak dalam tanah. Pembantaian pun dimulai. Bentakan demi bentakan diluncurkan seperti roket. Tapi aku gak gentar, soalnya aku udah pengalaman kayak gini waktu dulu jadi pendekar silat. Narsis lagi.

Lagipula setelah aku teliti ternyata paling banter mereka cuman nendangin kaki, gak kayak STPDN ato seperti salah satu Universitas negeri yang ada di makassar. Dulu aku setahun disana, gak lulus umptn jadi selamat deh. Tapi temenku yang lulus disana, bayangin, masak waktu ospek disuruh bawa nyamuk laki ama nyamuk cewek, gimana bedainnya coba?? Trus disuruh bawa burung pipit, lalat, dan lain sebagainya. Rambutnya juga dipotong seperti kartu domino balak empat. Kasihan temenku. Belum lagi hajar-menghajar kayak militer.. hmm sakit tauk.

“ Tim sar kok lemes kayak gini, ayo tegap..!” kata senior yang menghardik sai’in.

Saiin ternyata berlagak mau pingsan sambil goyang-goyang tapi gak jatuh-jatuh juga, mungkin dia takut juga eksen jatuh soalnya takut kotor kali. Ato mungkin supaya dikasihani ama senior cewek yang di taksirnya namanya senior Kiki. #GOSIIIPP#. Tapi ternyata dia malah diguyur air se-ember.. byurr… langsung melek deh. Rrrrrr….

Lalu, saatnya penggeledahan barang, dan tas kamipun dibongkar satu – persatu. Pas giliran tasku yang dibongkar, seorang senior dengan isengnya menggunakan kayu ranting mengangkat sempak yang tersembunyi di tumpukan pakaian, sebenarnya gak cuman satu aja sempak ditemukan, jelas kami bawa persediaan banyak, bayangin aja, selama seminggu gak ganti – ganti bisa kena kurap. Tapi sempak yang satu ini spesial, bukan spesial pake telur, tapi sempak ini spesial karena warnanya yang kelihatan seperti seminggu gak di cuci, makanya senior pada tertarik. Busseeettt…

“Sempak siapa nie….!” Teriak senior disambut tawa senior yang lain.

Tentu aja aku ngenalin itu sempak siapa, karena berasal dari tasku, yang pakaiannya juga dalam tasku pastilah itu punya si Puji, tapi dia gak ngaku. Dasar sial. Gw sebagai cowok keren mana mungkin mau dituduh punya sempak kayak gitu.

“Sempak siapa ini, hayo ngaku…” karena gak da yang ngaku seniornya nanya lagi..

“TAS SIAPA INI..?? ” lebih keras

“Saya senior!” jawabku tegas.

“INI PUNYA KAMU ?? ”

“Bukan senior..itu punya pu..puji ..” jawabku agak ragu

“Loh, inikan tas kamu ?? ” kata senior sambil melotot.

“Bener senior, pakaian kami digabung..” tambahku

Untung seniornya ngerti, lalu dengan segera Puji jadi santapan para senior yang haus darah.

Aku hanya berdiri tegap dengan pandangan lurus kedepan, gak mau tolah-toleh, karena udah faham permainan dan trik kayak gini. Lalu aku dengar senior berteriak lagi..

“Siapa yang minta rokok sama senior sebelum diklat??”

“Saya senior…” kata puji lemes.

Kontan aja senior memberikan tongkat pramuka yang ada di lantai.

“Nih, hisap..” bentak senior sambil nyodorin tongkat 1,5 meter ke cangkemnya puji.

Wah kasian si Puji malah disuruh ngisap tongkat pramuka.

Singkatnya, beginilah hari – hari yang kami jalani selama seminggu, hari – hari terasa lamaaaa banget….

Pernah waktu hari jum’at, masih dalam diklat, ketika mau solat jum’at, aku, dan yang lain ke masjid yang lumayan jauh letaknya dari basecamp induk. Aku terheran-heran kenapa makmum yang berada di belakangku ketawa, senyum-senyum geli, tak disangka tak di duga, karena di depanku ada kaca aku melihat potongan rambutku yang memang gondronk, tapi setelah aku perhatikan, aku seperti melihat hantu, aku gak ngenali diriku sendiri, ternyata potongan rambutku, sebelah panjang sebelahnya lagi pendek, jadi kayak potongan orang gila. Lalu aku lihat icuk samasai’in juga mirip orang gila, untungnya aku masih bisa khusyuk, kalo gak pasti udah terpingkal-pingkal di masjid. HUuuuuhh kesel banget, ni semua gara-gara senior.
Cerita tentang diklatnya ntar lagi disambung deh kalo ada request dari temen-temen himasos jaya ya..?

Pernah jam 1 malam karena di lingkungan kampus ada teman dari himpunan lain datang meminta bantuan karena salah satu temen mereka pingsan. Nah kebetulan aku ama yustinus ada di sekretariat, jadi kami yang memberikan pertolongan, kejadian memberikan pertolongan di tengah malam ini kerap terjadi, untuk itulah sekret kami stand by 24 jam dan selalu ada yang bertugas. Gak boleh kosong. Jadi ceritanya gini, 2 orang datang tergopo – gopo, meminta kami melihat temennya yang pingsan supaya di tolong, aku sama yustinus langsung bergegas ke lokasi korban. Ternyata memang korbannya lagi pingsan, kebetulan aku kenal dengan si korban, dia cewek dari himpunan Mapalas, aku kenalnya waktu kita sekelompok KKN, sebut aja namanya Kristin, nama samaran. Lalu aku menganalisa si kristin dan menginterogasi temen – temennya, kayak polisi.
“ Kenapa nieh…onok opo toh..??” tanyaku
“Tadi ketawa-ketawa, trus tiba-tiba pingsan..” kata temennya pucat
“Ohh… ya udah, tolong kamu orang tunggu di luar aja, biar dia dapat udara segar..” kataku

Dari sini aku menduga kalo dia kebanyakan ketawa, soalnya aku kenal si Kristin emang kalo ketawa sampai terpingkal-pingkal, sampai muntah-muntah lalu melahirkan setelah sembilan bulan, loh… emangnya orang hamil ?? yang jelas sampai semaput, bikin panik orang padahal dia keram perutnya gara-gara ke-enakan ketawa.

Tapi Yustinus sama Misbah, misbah ini tetangga sebelah himasos, asli madura, kebetulan ada disana, mereka berdua panik. Jadi yang ada diruangan itu kami bertiga.

“Ndok remma cong..? Kristin san – pingsan..” tanya misbah
“ e… Ini sakit sesak nafas barangkali..”kata yustinus sambil mendudukkan posisi Kristin yang semula baring, terkapar, lalu di berikan senam jantung.

Karena yustinus udah bertindak duluan, terpaksa aku diem aja, pikirku “biarlah yustinus berkembang…”

Setelah beberapa saat, dia sempet sadar, lalu meronta-ronta, menarik semua benda yang ada di dekatnya, termasuk hidung yustinus, gara-gara hidungnya panjang jadi mungkin dikira tongkat sapu lantai, kristin gak bisa bicara, hanya menahan sakit, teriak, menangis, merintih, sadar, tapi kemudian semaput lagi, sadar lagi, akhirnya setengah sadar.

Setelah senam jantung gagal, aku pun langsung memberikan tindakan, mengangkat perutnya tinggi-tinggi, karena inilah yang dilakukan kalo orang kena keram perut. Setelah beberapa saat kristin masih setengah sadar, lalu aku istirahat sejenak sambil berfikir.

“Gimanna Zal..?” tanya Misbah dengan logat khas Sampang

Sementara Yustinus masih sibuk ngebenerin hidungnya yang jadi tambah panjang gara – gara ditarik Kristin.

“Wah, kayaknya ni anak udah gak ada nyawanya lagi, meninggal..” jawabku sekenanya.

“HAAAHHH”…

Kontan aja si misbah dan yustinus kaget setelah hidungnya kembali normal, padahal aku sotoy aja.

Lalu aku membaca “Innalillahi wa Innalillahi Roojiuunn…”, ditambah dengan menggerakkan tanganku menyentuh jidat dengan telunjuk, lalu ke bahu kanan, trus ke bahu kiri, lalu ke dada, ini seperti agama nasrani, gak da unsur sara, maaf, tapi kristin emang nasrani, sedangkan aku muslim, wah jadi aneh….

Terang aja, ternyata si kristin yang agak sadar dari tadi melirik gerakan dan mendengar ucapan khas orang mati tadi, trus ketawa cekikikan sambil nyubitin pahaku sampai biru, aku teriak-teriak menahan sakit dicubitin, terharu bahagia, dia barhasil melewati masa kritis, dia siuman, dia sadar, sadar gara-gara tingkahku, sadar udah ku kerjain hehehe…

Hmm, tindakan medis yang aneh. WARNING ! Jangan ditiru ya, kecuali punya keahlian khusus kayak gini. Walah

hms

One comment

  1. sischa DePe · February 12, 2009

    mas jadi ingat diklatku ne………… kemarin waktu dikllat angkatan XV aku ma uki nangis ngenang waktu diklatku yangsekarang saudara2ku pada ilang coz putus kuliah, bener2 diklat tu buat persaudaraan kita makin erat banget…………
    i miss it

Comments are closed.