Tim Penyelamat


Himasos, siang itu , aku, Puji, Yustinus,dan satu junior, berangkat ke Jember setelah 3 hari sebelumnya dikagetkan dengan berita di tipi yang mengabarkan bencana banjir bandang yang melanda daerah tersebut. Tentu saja berita ini mengundang respon dari kami yang kebetulan bergerak dibidang SAR atau biasa dikenal dengan sebutan tim sar, yaitu penolong tanpa imbalan berhati mulia bagai pahlawan, hehe…

Sebenarnya organisasi kami ini mencakup kegiatan sosial dan kesehatan karena menggunakan lambang palang merah, tapi bukan PMI, karena kami berdiri secara independen, internal kampus UI(unitomo Indah).

Setibanya dilokasi, puji, karena ditunjuk sebagai pimpinan regu, langsung melapor keberadaan kami di pimpinan sar setempat agar di beri wewenang seperlunya, dan tentu saja dapat jatah makan gratis selama kegiatan….uhh kasian….

Puji asal banyuwangi adalah kawan seangkatan ku di himpunan ini, dan jujur aja dia adalah orang paling gokil yang pernah kukenal, konyolnya mirip srimulat, mungkin terobsesi ama timbul dkk.

Yustinus juga anggota yang masih dibawah kami satu tingkat tapi dalam himpunan ini kami tidak membedakan junior dan senioritas, sehingga akrab banget dengan manusia kebangsaan Flores Ende ini.

Pada saat keberangkatan kami ini, para senior dan alumni turut melepaskan kepergian kami dengan doa dan tentu saja mereka bangga akan misi mulia kami.

“ Pokoknya…kalian harus sukses, sukses, kalau kalian dapat meng-evakuasi korban, jangan pulang kalau gak dapat korban ” kata salah satu senior pengalaman.

Bayangan di otak kamipun dipenuhi ambisi karena merasa ingin mensukseskan misi tersebut.
“iya mas, doakan aja kami sukses…” kataku penuh semangat 45.

Kamipun dengan bekal yang cukup dan dengan petuah sakti dari para senior dengan langkah yakin, masuk ke mobil universitas yang waktu itu mengantarkan kami, rasanya pada waktu itu semua mata mahasiswa dan mahasiswi yang lagi nongkrong di kantin, yang lagi ngupil, yang lagi duduk, bediri, tidur ..loh ..loh “kok tambah ngaco” melihat kepergian kami.

“waaw..lihat arek himasos, pasti mereka mau nolongin korban banjir” ……..
Setidaknya itu yang ada dipikiranku waktu melihat setumpukan mata memandang kami dengan seragam khas ala SAR, dengan tanda palang merah disebelah kanan di ikat di lengan, scraft biru muda kebanggaan himpunan mahasiswa sosial ini, dan tentu saja kaca mata bundar ala John Lenon yang nangkring di jidat si Puji gak ketinggalan. Dan topi biru lumut, bukan sembarang biru tapi emang lumutan, topi ala pelukis yang monyong depannya kayak bibir si Tukul.

Mengenai kaca mata bundar yang berdiameter 7 senti ini kemanapun selalu pake si puji, gak peduli lagi naik gunung, ngesar, siang, malam, bahkan e’e’ weleh..weleh… selalu dipake. Sedangkan aku sendiri pake kaca mata hitam ala pilem matrix yang bisa ngindarin peluru, keren abis walaupun minjem, udah minjem gak tau punya siapa tuh…. Wah yg penting narsis.

Detik-detik keberangkatan pun tiba, disertai dengan mata haru binar anggota yang tidak bisa ikut ngesar bareng, kami pun dengan wajah yang dibuat-buat berupaya untuk menahan kesedihan, padahal dalam hati,,,,,senengnya minta ampun….. jalan-jalan keluar kota, gratis, selama seminggu, bebas biaya makan, irit selama diperantauan. Huuu…. Gak modal banget. Dasar anak kost.

Selama beberapa jam akhirnya kamipun sampai di jember, dan masih muter-muter nyari lokasi pusat bencana di kecamatan panti, pake nanya sana-sini. Seperti pepatah mengatakan:
“Malu bertanya, sesat dijalan”
“Bertanya terus….?, ya gak masalah, yang penting gak minta bayaran”

Jam 10 malam.
Huff…..nyampek juga..

Sementara puji laporan dan ngurus administrasi, aku dan Yustinus atau biasa di panggil Inok, kadang juga dipelesetin jadi Inokwati, entah karena apa, padahal melambai pun enggak, kan jarang tuh kecuali Ade Juwita hehehe…. Ituloh bancis yang jadi artis sukses, itupun perannya jadi hantu. Hiiii….atuuutt. Aduh kok ngomongin itu seh…

Aku dan Inok langsung beraksi memasang tenda, setelah mencari lokasi yang sekiranya tepat, akhirnya dengan keahlian analisa yang kumiliki, aku menunjuk sebuah tempat di belakang gedung sekolah, karena tenda kami lumayan besar dengan ukuran 6×6 jadi diperlukan tempat yang lumayan luas.
“Nus… pegang ni talinya….” Kataku memanggil Yustinus, kadang juga ku pelesetin jadi Anus. Hehe…resek.
“ok, tarik Zal” kata anus begitu tangkas

Jret…
Jret…
Jret…
Preetttt… “loh ternyata yustinus ngentut.”

Akhirnya tenda pun berdirilah…Tereeettt….

Beberapa menit kemudian puji datang dan segera bergabung dengan kami untuk istirahat, tanpa babibu, langsung buka sepatu dan ngorok… ukh sialnya kaos kakinya busuk minta ampun. Mirip bau mayat gak ketemu sebulan.

Akhirnya dengan segala makian khas suroboyoan menimpali puji si muka tembok rai gedek…
Tapi dasar si puji, dia tetap cuek aja…

Alhasil akupun berinisiatif membunuh sumber bau busuk itu, kaus kakinya kubenamkan dalam tanah sedalam 7 meter yang digali yustinus, karena dia berbakat jadi kuli gali kubur. Akhirnya kamipun bisa tidur pulas….(setidaknya untuk malam pertama) zzz…

Keesokan harinya setelah briefing dan sarapan kamipun mulai acara ngesar, nyari korban yang tertimbun lumpur-lumpur banjir, tapi tak ketemu juga selama seminggu karena udah di borong ama tim sar yang lebih dulu tiba dari kami. Jadilah kami tim sar gagal. Dasar gadungan.

Hari-hari yang ada malahan ketawa-ketiwi jauh dari bayangan kami, semula mikirnya yang enggak-enggak, takutnya kalo ketemu mayat busuk malah jadi histeris, trus jadi terganggu secara kejiwaan yang akhirnya berakibat trauma, lalu di bawa ke psikiater…. Uhhhh.. jauh deh mikirnya.. tapi emang bener kok. Bener bohongnya.

Malam-malam pun kadang kami di telp dari surabaya, senior selalu memantau keadaan kami, tapi kami atau lebih tepatnya aku, selalu melebih-lebihkan.

“Gimana kabarnya disana? Banyak korban gak? Butuh tambahan personil gak? Tetep semangat yo rek?..” kata senior yang iba.

“Aduh mas, disini parah banget, banyak nyawa berjatuhan, korban banyak yang trauma, tolong kirimkan bala bantuan dari ostrali, psikiater dan bla.. bla.. bla.. hiks.. hiks”, jawabku sekenanya disertai renge’an anak gaul.

Gak taunya, jawabanku malah direspon beneran, mungkin karena aku dikenal jujur kali ya…? (huek) siapin kantong plastik buat yang mau muntah.

Dukungan mentalpun datang bertubi-tubi memberikan semangat, padahal kami di lokasi kerja’annya main mulu. Mainin lumpur, main kartu, main golf, bowling, anggar …loh-loh maksud lo ..??

Tapi jangan ilfil dulu donk… ada juga bagian heroiknya.
Waktu itu aku dipecah kelompoknya, jadi aku terpisah dengan mereka, oia aku baru ingat waktu itu Sai’in juga ada, dia juga seangkatanku, asli nDemak. Dia juga biasa dipanggil I’in biar keliatan lebih manis. Muntah dulu ah…huek huek.. wah ijo – ijo semua isinya.

Jadi aku ama iin, inok ama puji, aku ama iin di kelompok 2. Ketika menyisir lokasi bencana kami nemuin sekelompok masyarakat yang gak mau ngungsi, akhirnya kami minta penduduk untuk ngungsi, karena dikhawatirkan akan terjadi banjir susulan, tapi mereka tetap ngeh aja. Soalnya mereka yakin banget gak bakalan kena banjir, seandainya banjir, mereka juga tetep pasrah aja. Hmm… aneh.

Tapi waktu itu kami nemuin nenek2 renta yang udah tua banget, lebih seabad, jadilah dia yang kami jadikan sasaran evakuasi. Waktu itu aku sempet mikir, seandainya ada puji, pasti deh aku suruh foto kegiatan kami, lalu dipamerin ke seluruh kampus, pasti deh jadi pahlawan dadakan, sialnya kamera dibawa ama puji. Dasar puji, niatnya jadi model tapi gak kesampaian.

Kembali ke nenek tadi, karena dia gak bisa gerak lagi saking tuanya, maka kami bingung….eits tunggu dulu, masa’ kami??? Lo aja kalee…
Tim yang bareng kami tadi bingung mau gotongnya gimana, untung aku punya skill dalam pembuatan tandu. Hmm.. hasil diklat nih… cerita diklatnya nanti aja yah.. Akhirnya aku inisiatif buat tandu, secara otomatis bakat kepemimpinan alias suka perintah orang keluar deh.

“Pak, tolong carikan dua batang bambu, saya akan buatkan tandu, SEGERA !” kataku dengan penuh kharisma Soekarno.

“Enjigh Mas…” kata orang yang kuperintah tadi. Padahal dia tim sar senior lho! mau aja diperintah ama aku yang kacangan gini.

Setelah bambu sama besar dan sama panjang udah siap, langsung aku perintahkan kepada orang satunya, mahasiswa dari surabaya juga tapi aku lupa mahasiswa mana yang jelas dia juga anggota PMI kampus.

“ mana talinya?” pintaku.
“ ini mas.. !“ katanya culun.

Dengan cekatan aku langsung merakit tandu dengan dua tangan ku, padahal dalam tekniknya, pembuatan tandu ini minimal 4 orang supaya hasilnya maksimal loh, kebayang gak hebatnya aku?..chiee…. padahal sotoy. Pada waktu itu aku gak tau saiin dimana, mungkin lagi nyari WC mau e’e’.

Mereka cuman ngeliat doang, dengan terpana, aku cuek aja, mungkin mereka takjub dengan keahlianku. Lagi-lagi pikiran positif. Hehe..
Akhirnya setelah berapa menit..tereet… jadi deh.

Dengan bangganya kupersembahkan hasil karya ku, layaknya di atas panggung yang disinari lampu panggung dan backsound menyambut bintang ternama aku tunjukkan tandu sakti penolong. Kayak di indonesian idol, ternyata dua orang tadi yang menonton pembuatan tanduku menjadi juri yang menilai pantas tidaknya tanduku untuk mengangkut nenek tadi. Sialnya, mereka menilai tanduku gak cukup kuat alias talinya kendor sana kendor sini, akhirnya aku tertunduk malu dan di eliminasi. Huumms sedih…

Tapi dengan keahlian argumentasiku, lagi-lagi, ternyata aku banyak keahlian yach, akhirnya tandu tadi jadi di pake, cuman di tambahin kain sarung, jadi tandunya didalam sarung, gimana ya? Bingung juga ngejelasinnya, pokoknya tandunya dipake, tapi supaya lebih kuat, di tambahin sarung di dalamnya jaga-jaga kalo talinya putus. Huuhh.. tambah bingung. Akhirnya jadilah tandu sarung singkatnya, si nenek pun berhasil di evakuasi.

Setelah sore menjelang, kami pun kembali ke basecamp induk, di tenda. Ketemu lagi sama puji dan inok. Mereka juga nihil, gak dapat korban yang di evakuasi. Malampun tiba, senyap, karena kelelahan akhirnya semua masuk kandang eh tenda, tidur.

5 menit pertama senyap…

Menit berikutnya haluusss…..

Berikutnya lagi… krusak-krusuk, puji ngorok.

Berikutnya lagi… krusak-krusuk, puji gelisah.

Berikutnya lagi… tuuut, puji ngentut.

Awalnya semua senyap,
Sialnya setelah 10 detik, dengan hitungan mundur, 10..9..8….sampai…1 duar!!! Kembang api, loh emangnya taon baru?, bukan yo, yang ada malah bau tak sedap menyeruak ke dalam tenda, busuk banget, ketahuan udah berapa hari gak e’e’.

Busyeeett,….dasar iblis kentut bau setan, tak perlu ditanya, seisi tenda bau kamar sumanto yang penuh dengan koleksi daging mayat. Tapi si puji cuek bebek, terang aja, wong entutnya dewek. Terpaksa kami berhamburan keluar tenda.

Emang si puji ada-ada aja ulahnya. Suka sembarangan.

Pernah suatu hari, disurabaya yang panas, kita lagi siap-siapin barang mau kemping, ada tenda, nesting, makanan, kompor, dll termasuk minyak gas buat masak yang dimasukkan dalam botol aqua, tiba2 puji datang, melihat botol berisi minyak gas nangkring dimeja dengan hausnya layaknya sudah satu minggu jalan di gurun pasir afrika, ditengah terik yang menyegat hingga bulu hidungnya keriting saking panasnya, dan akhirnya dia berfatamorgana melihat air suci dalam botol, dia langsung nenggak minyak gas yang dikira air mineral, jadi deh, manusia minyak. Kena batunya. Asal tau aja, kejadian ini gak cuman sekali. Kebayang gak tuh. Gak kapok-kapok. Makanya, dicek dulu sebelum mencoba. :>)

Setelah 5 hari di jember. Masih terngiang di telingaku (kayak lagu dangdut) kata-kata sakti dari senior, “kalo gak dapat korban, berarti gak sukses..ses…ses…ses”, menggema gitu deh sampai jauh, lalu entah muncul dari mana ide gila ini, yang jelas dari otak kananku, aku langsung ngumpulin tim sukses untuk merekayasa kegiatan evakuasi, layaknya main film, maka aku sebagai sutradara membuat scrip seenak udelku dengan bintang utama Yustinus yang berperan sebagai korban yang kami evakuasi, tentu saja ide gokil ini dapat persetujuan penuh dari puji yang gile abis.
Awalnya yustinus gak mau karena gak yakin, tapi karena di desak oleh kami dan dengan kemampuan puji yang berhasil membujuk , jangankan yustinus, orang mau bunuh diri aja sampai gak jadi lompat ke sungai, bagaimana enggak, dengan pedenya puji melemparkan kaos kakinya yang busuk ke sungai dari jembatan merah setinggi 10 meter, ikan – ikan langsung pada timbul semua. Mati. Akhirnya orang yang mau bunuh diri tadi gak jadi, soalnya jijik sama air sungainya. Hahaha….

Akupun juga turun tangan membujuk yustinus, “ Nus kamu pantes banget loh jadi model korban bencana alias model mayat !”..

“ iya yus, kamu pantes banget, badanmu kurus kering, kayak orang gak makan setahun” katanya puji seenaknya.

Tentu saja mendengar kenyataan pahit ini mengundang tawa sampai muntah-muntah, kecuali yustinus, langsung manyun dengan makian khas surabaya, tapi pake logat flores. Bayangin deh pasti aneh.

“ Jancok.. !!” katanya. Huruf ‘o’ disini seperti dalam kata ‘botol’

Tentang yustinus, orang ini terkenal sadis pada awalnya, kanibalis sejati, pernah suatu ketika, didepan sekret himasos, ada anak kucing gak berdosa, lagi nyari ibunya, ditimpukin ama paving.

“ waw ada kucing, enak nih di makan, kita sate yuk..!” katanya sambil nimpuk dengan logat khas flores yang di jawa-jawain, maksa banget dech.

Uhh kontan aja semua yang ada waktu itu menaruh iba mendalam terhadap si anak kucing ketimbang yustinus yang lagi kelaparan gak dapat kiriman buat beli tempe penyet di warung seberang kampus.

“ ya ampun nus… kamu nie tega banget, kasian kucingnya bego!!”, kata anggota cewek di tambah anak-anak lain mendukung aksi protes dari tindakan yustinus yang tidak berperi kebinatangan.

Mendengar support dari kami, ajaibnya anak meong tadi gak jadi mati, jadi gak perlu heran kalo ada mitos kucing punya sembilan nyawa. Dengan nafas ngos-ngosan, si meong mengumpulkan tenaga untuk bangkit, dan bangkit, berusaha berjalan dengan tertatih-tatih, dan menatap yustinus memohon ampunan. Seandainya si meong bisa ngomong mungkin dia bilang “tolong ampuni aku, apalah dosaku, aku hanya anak kucing yang di tinggal ibuku sejak bayi, mencari sesuap nasi, dan air setetes, ohh… malang nasibku.“

Ternyata, jeritan hati si meong sampai juga ke hati yustinus, diam-diam yustinus menghapus air matanya yang menetes, hatinya iba, akhirnya dia menolong si meong untuk bangkit, menyentuh tangan si meong kayak orang lebaran, lalu memberikan pertolongan, dan mencium dan bersujud di kaki si meong seraya mengharap ampun, karena surga di bawah telapak kaki si meong. Akhirnya si meongpun berjalan seraya meninggalkan yustinus dan memaafkan kejahatan yustinus dengan ikhlas. Huff.. jadi lega.

Mulai saat itu, yustinus berjanji 7 turunan gak mau makan kucing apalagi nimpukin pake batu. Akhirnya kalo dia kelaparan dan gak ada duit, terpaksa makan kecoa yang ada di himasos, bwakakaakak…

Kembali ke pemotretan model mayat….
Akhirnya aku pun merancang aksi dan pose yang pas untuk yustinus. Aku, puji dan saiin, berpura-pura bawa korban bencana tadi dengan tandu, tentu saja kami tuangkan tanah dan daun-daun kering supaya yustinus lebih mirip korban bencana, ditambahin darah nyamuk, dipoles mentega melas, finally, asli sumpah, miriiiiippp bangets. Trus di jepret ama junior kami anak cewek lan culun, namanya aku gak inget, soalnya dia keburu drop out dari himpunan.

“Jepret”.. jadi deh korban bo’ongannya.
Alhasil foto itulah yang jadi kenangan dari jember, satu-satunya.
Awalnya banyak yang tertipu, tapi lambat laun ketahuan juga. Kaciaaannnn deh lo.

Akhirnya, karena jadi tim sar yang gagal dan demi mengenang model mayat yang kami jepret, si Puji sebagai ketua tim menamai kami ketika kembali ke kampus dengan Sarizal, Sariji, Sarinus, dan Sari’in. Onok – onok ae modele. Dan gelar ini bertahan sampai kami lulus kuliah.
sarinus
Yus, Rizal, PujiYus, Rizal, Puji

2 comments

  1. U_q' · February 19, 2009

    wkaa..kaa…
    ealaah…virus gila yang menular… aq jd ikutan gila cz cekiki’an di dpn comp…Persepsi netter…??? Hi..hi.. EGP!!
    Himasos… Jaya!!!

  2. nafsi · February 10, 2009

    tim sar yg aneh..

    sru critax pa,lcu..
    tp krg ftox..
    kn pgn tau jg gmna foto korbn bo’onganx..

Comments are closed.