Kapitalisme Menghapuskan Musik MetaL


Kapitalisme Menghapuskan Musik MetaL

Posted by: rizal saputra on: May 24, 2008
In: Kuliah Comment!

Musik metal di tanah air semakin sepi, kehadiran band2 rock baru yang bertaraf nasional semakin melemah di bawah kaki sang manajer dan produser yang hanya mengejar target dan memikirkan income penjualan dari lagu dan musik yang telah di produksi. Para produser yang tidak memiliki jiwa seni dan hanya menganalisa secara umum, musik2 yang paling potensi di kalangan remaja dan dewasa yang cenderung ke pop (peterpan hehe..) dan hip-hop (musik genjot2, angguk2) dari pada musik metal (geleng2). Di surabaya sendiri, ketika saya dan Iyus Reptile Plat L (HIMASOS dan No Wars) mengadakan sebuah parade musik rock dan metal menampilkan 30 Band Lokal tanpa ada pihak sponsorship yang mendukung, mereka mau mendanai jika bintang tamunya adalah (….)dari musik hip-hop. Sebuah pemerasan dan pemerkosaan kreativitas saya kira. Mungkin hal ini pernah dialami band2 rock papan atas seperti Jamrud, Boomerang, Power Metal, Bip, Netral dll…. Jamrud yang beraliran Metal yang pada mulanya sangat kental lambat laun menjadi aliran musik band GeLo….ketika manggung di Surabaya dilempari botol2 dan sorak sorai penonton untuk memintanya segera turun…karena penonton sudah tidak sabar untuk melihat performance HELLOWEEN band yang mengusung musik Rock Metal ini untuk segera tampiL, karena penonton sudah ‘dipanasi’ oleh Power Metal sehingga adrenalin mereka meningkat drastis…namun ketika Lirik lagu Jamrud ‘Aku dan Susu Ibumu’ dilantunkan, penonton menjadi muak dan merasa tidak pantas Jamrud menghibur mereka dengan lagu seperti itu, nampaknya Jamrud sudah lupa kalau Surabaya adalah Barometernya musik RocK.

Kaum Kapitalis, yang notabene adalah orang2 berduit atau yang hanya memikirkan duit, tidak pernah perduli dengan idealisme para RockeR.. sehingga menekan para Rocker untuk mengurangi intens musik mereka agar disukai orang pada umumnya seperti lagu cinta…(memenjarakan seni untuk bebas berekspresi) Namun salut untuk anak2 UnderGroUnd yang setia sampai ‘Mati’ untuk mengusung Musik mereka yang kebanyakan bersifat FronTaL, dan bisa ‘menyinggung’ pemerintah itu sesungguhnya mampu dan dapat menjadi perhatian yang menarik untuk digali lebih dalam nilai seni yang mereka tampilkan. Penganut Filsafat ‘three fingers’ atau tiga jari ini, merupakan aset dalam dunia seni yang hampir punah, dan lagi ketika studio musik mengeluarkan peringatan ‘No UnderGround’ merekapun menjadi semakin tersisih dan terpuruk, sehingga terus di dalam tanah dan tak pernah terdengar teriakan mereka walaupun mereka berteriak sampai suara mereka seRak dan Parau…Namun tak pernah terdengar. Namun Konyolnya banyak iklan2 di televisi menggunakan soundtrack bernada menyindir alias menggunakan soundtrack atau BackSound musik metaL seperti iklaN Soundrenalin, namun yang ditampilkan jauh berbeda dengan BackSound tersebut. Namun para MetaLCholic tak pernah berhenti berjuang agar ‘kaumnya’ dapat mendengar hasil karya mereka.
Saling bahu-membahu demi mencapai cita2. Sungguh suatu kebersamaan yang langka. Salah satunya komunitas Punk yang pernah saya ketahui ketika bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Sosial, Unitomo SBY, mereka mengadakan event dengan tujuan mencari dana untuk kawan mereka yang sedang dirawat inap di rumah sakit, dan yang tampilpun adalah band2 dari komunitas mereka sendiri, jangankan penonton artis dan kru saja membayar harga tiket masuk, namun hal ini tidak memberatkan sama sekali di hati mereka, mereka telah memenangkan dua hal yaitu hati yang tulus iklas untuk menyumbang dan kepuasan di atas panggung yang sangat mereka idamkan.
Memang sering kita jumpai ketika dalam sebuah event raksasa yang menampilkan band2 RocK papan atas sering terjadi Kerusuhan atau Missing Ticketing, alias mencari jalan lain untuk masuk dan men0nton gratis. Ini bukan berarti mereka tidak punya uang untuk membeli tiket masuk, tapi mereka tidak mau kompromi dengan kaum kapitalis dan ingin ‘balas dendam’. Band Punk Superman Is Dead yang pernah tampil di Unitomo adalah suatu bukti nyata, Punkers dari berbagai daerah pun datang dan berjubel di halaman depan, tak ayal lagi kerusuhanpun tak bisa dihindari sehingga pihak panitia membuka pagar dan melakukan ‘penghangusan tiketing’ ALL FreE buat punkers. Nah sekarang hal ini patut di ambil hikmah dan pelajaran untuk band2 se-Aliran baik yang sudah terkenal, akan, dan belum terkenal agar memperhatikan kualitas dan mendahulukan kebersamaan. Musik, lagu, ataupun seni lainnya dapat dinilai kualitasnya jika didengarkan atau dilihat dengan hati, karena telinga dan hati ini tidak bisa berbohong untuk mengatakan ‘Musik Anda (……..) SekaLi’ , dan ini patut di perjuangkan agar musik seperti itu dapat tempat dimasyarakat dan pemerintah, terutama kaum kapitalis, yang selamanya tidak akan pernah mengerti sebelum mencoba untuk membantu mengeluarkan mereka dari dalam tanah yang gelap seperti makam dan mendengarkan teriakan mereka yang semakin parau dan hampir lemas tak berdaya.

One comment

  1. Tarega Albeniz · May 18, 2009

    great,bagi lagi mnjdi 2 klas,idealisme n idealisme komersil!,…ada yg pure melestarikan n ada yg mncul ke permukaan,…apa mgkin mengusung lagi genre speed metal ke Industri?
    gak mungkin kan?
    so…
    olah itu…
    make it simple tp tdk mngurangi bobot,..
    jika tidak label memang tidak mau melek lg,…kita buat mereka tercengang!!!!
    pelajari dunia industri,..
    obrak abrik ma aransemen eas listening tp ttp pada karakter!!!
    susah mmg…
    wht not?
    lets try ..

    salam tiga jari….!

    (HamindaliD-bass player)

Comments are closed.