Kisah Cinta Segitiga Bumi, Bulan dan Matahari


Alkisah, pada zaman dahulu, jauh sebelum zaman purba dimulai, Sang Pencipta menciptakan ‘makhluk’ bernama Ratu Bumi Pertiwi, yang begitu cantik dengan gaun hijau menjuntai, warna matanya yang bening, mahkota dan sepatu yang terbuat dari emas putih menghiasi tubuhnya yang indah dan suci, sehingga setiap mata yang memandang pasti sangat terpesona dengan keindahan yang diberikan pencipta kepada Bumi Pertiwi. Lalu Sang Pencipta menciptakan Raja Bulano dan Raja Mataharing yang ditugaskan untuk melayani dan menjaga Bumi Pertiwi agar tetap terjaga keindahan dan kesuciannya.
Raja Bulano dan Raja Mataharing adalah mahluk yang sangat gagah, mereka diberikan keistimewaan yang berbeda dalam melayani Bumi Pertiwi. Bulano memiliki keahlian dalam bidang Fashion seperti Ivan Gunawan, sorot mata teduh dan mendinginkan perasaan gelisah sehingga Bumi sering curhat setiap malam kepadanya, sedangkan Mataharing memiliki keahlian motivator dan penyemangat mirip Mario Teguh, pribadinya tegas dan selalu berapi-api, sorot matanya tajam sehingga memberikan kehangatan kepada Bumi dan menjadi asisten dalam setiap pekerjaan Bumi. Dengan kelebihan masing-masing ini, Bumi sangat bergantung kepada keduanya.
Singkat cerita…….. (namanya juga cerita pendek …..hehehe [pen] )
Lama-kelamaan, eehh… gak taunya, si Bulano dan Mataharing jadi naksir dengan Bumi.
Pada saat malam tiba, si Bulano yang sangat melankolis dan romantis datang dan memberikan bunga yang sangat indah dan menawan hati, diambil dari tempat yang sangat jauh dan hanya Bulano yang tahu dimana tempat bunga itu tumbuh. Rencananya mau nembak Bumi Pertiwi.
“Met malam Bumi…. ” Kata Bulano dengan lembut seraya memberikan seikat bunga yang dibawanya.
“Met malam juga…” balas Bumi dengan manja dan cute. “wow.. bunga yang bagus, bunga apa ini say…?” Tanya Bumi penasaran.
“Namanya Bunga Tidur, ini khusus untukmu dinda..” Bulano sumringah, karena yakin akan diterima cintanya.
Pada saat Bulano ingin mengutarakan rasa cintanya kepada Bumi Pertiwi, tanpa disangka-sangka datanglah Mataharing, ternyata Mataharing sudah tau rencana Bulano untuk ‘nembak’ Bumi Pertiwi. Bulano jadi marah karena dihalangi niatnya oleh Mataharing (Gerhana Bulan).
“Hei Mataharing, ngapain kamu datang malem-malem gini ??, Bumi udah waktunya istirahat, dan tugaskulah yang menjaganya.” Bulano jengkel
Gak mau kalah Mataharing berang “Sori Lan, bukannya mau ganggu, tapi aku kesini mau mengambil kembali Bunga Tidur yang kau curi dariku..”
“enak aja, bagaimana bisa bunga ini kau klaim sebagai milik mu?” ..
“ Hei Bulano, kau tidak tau diri, kau ambil bunga itu disiang hari (gerhana Matahari), sedangkan aku adalah penguasa daerah siang, ayo kembalikan ” ..
“Ooh Bulano, benarkah itu ?” kata Bumi Pertiwi jadi sedih…
“ EEEeee enggak kok, berani sumpah deh… Mataharing bo’ong tuh”…
Karena rasa kecewa yang mendalam akhirnya Bumi meninggalkan Bulano dan Mataharing. Bulano dan Mataharing tak mampu mencegahnya.
“ Hei Bulano kau jangan coba-coba macarin Bumi Pertiwi, dia milikku…..” kata Mataharing marah..
“Hohoho, ternyata kau juga suka sama Bumi Pertiwi, gak bisa, dia lebih suka aku daripada kamu, karena setiap malam aku yang menjaganya”..
“ Enak aja, aku yang saban hari menemaninya, maka pastilah dia lebih mencintaiku..” kata Mataharing gak mau kalah.
Akhirnya Bulano dan Mataharing menyatakan perang dan permusuhan terjadi bertahun-tahun lamanya, sedangkan Bumi tidak ada yang memperhatikan, Bumi jadi jelek, kurus, kotor, dan hampir mati.
Mengetahui hal ini, Sang Pencipta menciptakan 8 (delapan) Ratu banyaknya supaya Raja Bulano dan Raja Mataharing dapat memilih diantaranya sehingga melupakan cinta mereka kepada Ratu Bumi Pertiwi dan kembali melaksanakan tugas mereka masing-masing yaitu menjaga kesucian Ratu Bumi. Kedelapan Ratu tersebut adalah Ratu Merkurina Wati, Venusa Devi, Marsiah, Jupiterani, Saturnisa Joli, Urani Sri, Neptuna Kajol dan Pluta Sari. Mereka semua tidak kalah cantiknya dengan Bumi. Namun Bulano dan Mataharing sudah cinta mati dengan Bumi, dan setiap kali mereka berperang, entah mengapa Bumi selalu muntah Larva, karena pusing Tsunami dan Magg Putting Beliung. Bumi sedang sakit parah.
Bulano dan Mataharing sama-sama tidak mau mengalah bahkan ketika mendapatkan peringatan dari Sang Pencipta, keduanya ‘ngeyel’ dan ngotot bahkan tidak takut diambil nyawanya oleh Sang Pencipta, namun Sang Pencipta tidak melakukan itu karena nyawa Bumi bisa ikut terancam mati.
“ Wahai Bulano dan Mataharing, apakah kalian tidak mau berhenti berperang?? Padahal telah Aku ciptakan delapan mahluk lain pengganti Bumi untuk kalian ?” Suara Sang Pencipta menggema seisi jagad raya.
“Wahai Sang Pencipta, sungguh kami tidak bisa pindah kelain hati, apapun yang terjadi ”..Kata Bulano
“Engkaulah yang mengkaruniakan rasa cinta ini kepada kami, maka kami tidak akan menghianatinya”, tambah Mataharing.
“ Wahai Bulano dan Mataharing, kalian tidak mengetahui rahasia cinta yang kuberikan untukmu, jika kamu mengerti maka kamu bisa bersanding dengan Bumi. Namun Aku tahu kalian tidak akan mampu memahaminya…” ,
Lalu Sang Pencipta menciptakan Raja Langitung, seketika..
“ Wahai Bulano dan Mataharing, inilah Raja Langitung yang akan mengawasi tugasmu,dialah yang akan menjaga Bumi dari kerusakan yang kalian lakukan, dan janganlah mencoba kekuatan dengannya karena dia Kuberikan kekuatan 7 kali lipat dari kalian berdua.” Firman Sang Pencipta..
Begitu gagahnya sang Raja Langitung, ketika melihat isi hati Bulano dan Mataharing yang nampak cemburu akan kehadirannya, maka sang Raja Langitung mengeluarkan Petir yang menggelegar dan menampakkan keperkasaannya yang membuat Raja Bulano dan Raja Langitung gentar dan ketakutan.
Dengan kekuatan Langitung akhirnya Bulano dan Mataharing tunduk dan menerima perintah dari Raja Langitung untuk menjaga jarak dengan Bumi dan kembali menjaga Ratu Bumi dibawah pengawasan Raja Langitung walaupun kadang-kadang Bulano dan Mataharing saling bertengkar yang mengakibatkan gerhana matahari dan bulan. Lambat laun Bumi Pertiwi pun menjadi sehat kembali, karena selalu dilindungi Langitung dengan awannya yang meneduhkan dari panasnya sang Mataharing yang terbakar hatinya, dan dilindungi Langitung dengan cahaya bintangnya dari kegelapan hati sang Bulano.
Itulah Bumi Pertiwi, yang kemudian melahirkan banyak mahluk diantaranya adalah Manusia, itulah Ratu Bumi yang kita sebut dengan Ibu Pertiwi.
Akan kah kita mendurhakainya?? Tegakah kita memperkosanya ?
Beberapa dari anaknya telah melakukannya, namun sang Ibu Bumi masih bersabar karena masih ada anaknya yang ikut serta menjaga dan memerangi saudaranya yang durhaka walaupun terkadang Raja Bulano dan Raja Mataharing memberikan hukuman tanpa seizin Ibu Pertiwi, namun hal ini dimaklumi Langitung karena rasa cinta mereka pada Bumi yang belum hilang sampai hari kiamat kelak. Namun jika anaknya yang baik dan penurut ini telah habis dan tinggal anaknya saja yang durhaka, maka tunggulah kemurkaan Ibu Bumi, dia akan mengadu kepada Raja Langitung yang kekuatannya 7 kali lipat dari kekuatan Bulano dan Mataharing.

13:2. Allah-lah Yang meninggikan Langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, dan menundukkan Matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah swt mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu

14:33. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.

21:33. Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.

29:61. Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).

3 comments

  1. ejja · July 22, 2009

    Waw…
    Keren gan idenya..

Comments are closed.